Pelayan Allah

PELAYAN ALLAH
Bacaan : Korintus 6 : 1 – 10

Mengawali perenungan firman Tuhan saat ini, saya hendak mengatakan bahwa kita semua sebagai orang yang mengaku dan percaya kepada Yesus Kristus atau sebagai pengikut Kristus adalah sebagai alat atau dapat dikatakan sebagai pelayan Tuhan baik itu didalam kehidupan kita berjemaat maupun didalam kehidupan bermasyarakat dan didalam kehidupan berumah tangga. Hal ini saya ingin katakan, oleh karena kadangkala kita memahami bahwa pelayan Tuhan atau yang mempunyai tugas melayani Tuhan hanyalah para pendeta ataupun majelis. Saya tidak tahu apakah didalam ilmu teologia ada pengertian lain tentang pelayan Tuhan, Namun menurut pemahaman saya, sesungguhnya ketika kita sebagai orang yang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Allah kita maka sesungguhnya kita telah menjadi alat untuk melanjutkan misi pelayanan Yesus Kristus, sehingga kita semua dapat dikatakan sebagai pelayan Tuhan, atau dalam pengertian lain kita sebagai perpanjangan tangan Tuhan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan.... Salah satu kewajiban kita sebagai pengikut Kristus adalah melayani Tuhan dan sesama. Tugas pelayanan ini banyak bentuknya dan dalam berbagai situasi kita dapat melakukannya baik didalam kehidupan berjemaat atau kehidupan bermasyarakat ataupun didalam kehidupan keluarga kita masing-masing. Dan untuk melaksanakan tugas pelayanan ini tentunya tidak hanya sebagai pemimpin ibadah di dalam ibadah evang atau ibadah kategorial, tidak hanya mendoakan orang – orang sakit di rumah sakit, tetapi tugas pelayanan kita sebagai pengikut Kristus mencakup seluruh aspek kehidupan yang berpedoman pada ajaran Yesus Kristus melalui kisah penggembalaanNya selama Ia berada didunia. Contoh : dalam kehidupan berumah tangga, tentunya suami sebagai Kepala keluarga akan melayani isteri dan demikian sebaliknya, saling memberikan motivasi, saling melengkapi ketika ada kekurangan dan saling menasihati ketika ada hal – hal yang dilakukan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sebagai orang tua dari anak – anak kita, tentunya kita berkewajiban untuk mendidik serta membimbing anak – anak kearah yang benar sesuai ajaran Kristus. Sebagai anggota jemaat, tentunya kita juga berkewajiban untuk saling menasihati ketika ada sesama kita yang mungkin telah melakukan hal – hal yang tidak berkenan dengan kehendak Allah, demikian pula ketika kita hidup ditengah – tengah masyarakat sekitar kita. Itu semua merupakan salah satu contoh tugas kita sebagai pengikut Kristus, yaitu melayani sesama kita. Dan ketika kita melakukan hal ini, ada Firman Tuhan yang berkata : jika kamu melayani sesamamu manusia maka kamu juga telah melayani Tuhan Allahmu. Bapak/Ibu/Saudara yang dikasihi Tuhan.... Perikop bacaan kita saat ini merupakan Surat Rasul Paulus yang ditujukan kepada Jemaat di Korintus. Ayat 1 bacaan kita saat ini, rasul Paulus berkata : sebagai teman sekerja, kami menasihatkan kamu. Hal ini dikatakannya kepada jemaat di Korintus, rasul Paulus menganggap bahwa semua jemaat adalah teman sekerja, yang sama – sama mengemban tugas untuk melanjutkan misi Yesus Kristus. Dan dari keseluruhan bacaan kita saat ini, kami mengambil 2 ayat yang menjadi titik perenungan kita yaitu ayat 3 dan 4 (II Korintus 6 : 3 dan 4) “dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu : dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran.” Dari nats yang menjadi titik perenungan ini, kami mengambil kesimpulan atau menarik satu tema dari apa yang telah ditunjukkan oleh Rasul Paulus yaitu “Integritas seorang pelayan”. Integritas kalau dalam kamus besar bahasa indonesia dapat diartikan sebagai : mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan serta kejujuran. Atau dapat disederhanakan demikian : “apa yang kita pikirkan harus sama dengan yang kita katakan, dan apa yang kita katakan harus sama dengan tindakan yang kita lakukan, dimanapun dan kapanpun. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan.... Rasul Paulus dan rekan-rekannya telah membuktikan integritas mereka sebagai pelayan Allah. Mari kita perhatikan kalimat “dalam segala hal” pada ayatnya yang 4. Rasul Paulus menjaga integritas dalam setiap bagian kehidupan. Yaitu, mudah untuk mempraktekkan kasih, kesabaran, kemurnian, dan ketaatan kepada Roh Kudus dalam situasi apapun, apakah situasi yang baik maupun dalam situasi ketika kesusahan melanda, orang-orang mengumpat dan memfitnah, keuangan tidak lancar, bahkan ketika maut mengancam. Rasul Paulus tetap tegar dalam situasi atau permasalahan apapun yang mereka hadapi didalam menjalankan tugas pelayanannya. Itulah yang diteladankan oleh Rasul Paulus dan rekan – rekannya sehigga merekapun dapat mendorong jemaat di Korintus untuk melakukan hal yang sama. Jemaat yang Terkasih.... Menjadi pertanyaan bagi kita semua, dan mari kita memeriksa diri kita masing – masing, apakah kita sudah menyatakan sikap sebagai pelayan Allah dalam seluruh bagian kehidupan kita, baik itu dirumah, dilingkungan berjemaat, dilingkungan kerja kita masing – masing, dan dalam aktifitas kita ditengah – tengah kehidupan bermasyarakat. Ataukah orang lain atau sesama kita hanya melihat kita sebagai batu sandungan? Lewat kebenaran Firman Tuhan saat ini, semoga akan menuntun kita agar dapat belajar bersama – sama untuk menjadi pelayan Allah yang berintegritas (atau yang berlaku jujur sesuai dengan perkataan kita) dan kita tidak akan menjadi batu sandungan, tetapi akan menjadi berkat bagi orang lain. Dalam kehidupan berumah tangga, tentunya kita menginginkan anak – anak kita agar terus bertumbuh dalam iman hanya kepada Yesus Kristus, kita akan menuntun mereka ke jalan yang benar. Dalam kehidupan berjemaat tentunya kita juga menginginkan adanya keutuhan jemaat, semakin hari akan terus berkembang menujuh kearah yang lebih baik, dalam kehidupan dilingkungan kerja kita masing-masing ataupun ditengah – tengah masyarakat tentunya kita juga menginkan suasana yang lebih baik, mengarah ke pada kehidupan yang akan saling mensejahterakan diantara seluruh komponen masyarat. Kalau kita menginginkan semuanya itu, maka tentunya hal ini HARUS dimulai dari diri kita sendiri. Kita akan memulai untuk berkata – kata dan bertindak dalam status kita sebagai Pelayan Tuhan. Ketika ada permasalahan yang menghimpit kehidupan kita, kita akan tetap tegar untuk melayani Tuhan. Ketika kita menghadapi suatu permasalahan dengan sesama kita, kita akan terus berupaya untuk berdamai, sehingga kitapun tidak akan menjadi batu sandungan bagi sesama kita dalam mengemban misi penyelamatan Yesus Kristus, demikian sebaliknya sesama kita tidak akan menjadi batu sandungan bagi diri kita sendiri. Kalau kita mampu untuk memulai dari diri kita sendiri maka tentunya kita akan mampu juga untuk menerapkan didalam kehidupan keluarga, jemaat dan masyarakat. Sekali lagi, Ingatlah bapak/ibu/saudara, bahwa : STATUS “PELAYAN ALLAH” BAGI KITA SEMUA SEBAGAI PENGIKUT KRISTUS, BUKAN HANYA BERLAKU DIDALAM TEMBOK GEREJA, TETAPI STATUS ITU BERLAKU DISETIAP WAKTU DAN SEGALA TEMPAT SERTA DALAM SITUASI APAPUN. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin

Posting Komentar